Kamis, 24 Mei 2012

BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

BUDIDAYA TANAMAN  KAKAO  
(Theobroma cacao)
Oleh : Dr. Ir. Listyanto, MSc *)
1.    Kriteria Iklim dan Kondisi Lokasi.
Kakao:bercurah hujan 1.100-3.000 mm/tahun memiliki keasaman (pH) 6-7,5,  kedalam air tanah diisyaratkan minimal 3 m, tanaman dapat tumbuh pada pH tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; suhu udara ideal  bagi pertumbuhan kakao adalah 30-32 derajat C (maksimum) dan 18-21 derajat C (minim) ketinggian 100-700 m dpl.  tanaman kakao memerlukan penyinaran lebih banyak namun intensitas sedang maka perlu
Melihat persyaratan pada masing-masing komodite tersebut  secara garis besar wilayah indonesia cocok untuk pertumbuhan komodite perkebunan tersebut. Namun tidak setiap wilayah cocok dengan komodite tersebut. Karena kecocokan komodite tergantung dari kondisi iklim seperti suhu, curah hujan, ketinggian, kemiringan tanah dan yang lebih utama adalah kandungan unsur hara tanah sebagai media tumbuh.

Kondisi  Lahan.
1) Penyiapan Lahan Penanaman.
Lahan perkebunan sawit, kakao dapat berasal dari hutan asli, hutan sekunder, tegalan, bekas tanaman perkebunan atau pekarangan. Lahan yang miring harus dibuat teras-teras agar tidak terjadi erosi. Areal dengan kemiringan 25-60% harus dibuat teras individu.

2)    Pembukaan Lahan 
Cara penyiapan lahan dapat dengan cara pembersihan selektif dan pembersihan total. Alang-alang di tanah tegalan harus dibersihkan/ dimusnahkan supaya tanaman kakao dan pohon naungan dapat tumbuh baik. Untuk memperlancar pembuangan air, saluran drainase yang secara alami telah ada harus dipertahankan dan berfungsi baik.

3.1. Pembibitan.
Perbanyakan tanaman kakao lebih sering dilakukan dengan cara generatif karena bibit dihasilkan dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.

1). Persyaratan Benih
Benih yang baik berasal dari buah berbentuk normal, sehat dan masak di pohon Buah tersebut berwarna kuning, jika diguncang timbul suara dan jika diketuk dengan tangan timbul gema. Bibit yang baik harus memenuhi persyaratan, antara lain:
a)   Pertumbuhan bibit normal, yaitu tidak kerdil dan tidak terlalu jagur.
b)   Bebas hama dan penyakit serta kerusakan lainnya.
c)   Berumur 4–6 bulan.

2). Penyiapan Benih 
Buah dipotong membujur, lalu benih yang berada di bagian tengah diambil sebanyak 20-25. Bersihkan lendir buah dengan meremas-remasnya dalam serbuk gergaji lalu dicuci dengan air dan direndam dengan fungisida. Benih dijemur di bawah sinar matahari. Benih yang baik memiliki daya kecambah sedikitnya 80%.

3).  Teknik Penyemaian Benih. 
Lokasi bedengan persemaian dibersihkan dari pohon dan rumput serta batu dan kerikil. Ukuran bedengan 1,2 x 1,5 m panjang 10-15 m dan tinggi 10 cm arah utara-selatan. Tanah bedengan dicangkul 30 cm, setelah dirapikan diberi lapisan pasir 5-10 cm dan tepi bedengan diberi dinding penahan dari kayu/batu bata. Bedengan diberi naungan dari anyaman daun alang-alang, kelapa/tebu dengan tinggi atap di sisi Timur 1,5 m dan di sisi Barat 1,2 m.  Sebelum disemai benih dicelup ke dalam formalin 2,5% selama 10 menit. Benih dibenamkan (mata benih diletakkan di bagian bawah) ke dalam lapisan pasir sedalam 1/3 bagian dengan jarak tanam 2,5 x 5 cm.  Segera setelah penyemaian, benih disiram. Penyiraman selanjutnya dilakukan dua kali sehari dan disemprot insektisida jika perlu. Keping biji terbuka tidak serentak sehingga perlu dibantu dengan tangan. Setelah 4-5 hari di persemaian benih sudah berkecambah dan siap dipindahtanamkan ke polybag.

4).  Penyiapan tanah di polybag:
·         Tanah sebagai isi polybag dipersiapkan dengan baik, komposisi yang baik terdiri dari : 50 % tanah subur, 25 % pupuk kandang, 25 %  pasir. yang telah dicampur kemudian media ini  diayak.
·         Hasil ayakan disemprotkan secara lamat-lamat dan merata larutan pupuk Bio P 2000 Z ( pupuk Bio P 2000 Z + Phosmit + air dengan perbandingan 1 : 1  : 200 ).
·         Kemudian  masukkan media tanah tersebut ke dalam polybag 20 x 30 cm sampai 1-2 cm sampai  2 cm di bawah tepi polybag.  
·         Kecambah yang memenuhi syarat untuk dipindahkan ke dalam pembibitan berkecambah pada hari ke 4-5 dan akarnya lurus. Satu kecambah kakao dimasukkan ke dalam lubang sedalam telunjuk, lalu lubang ditutup dengan media.  
·         Polybag berisi kecambah disimpan di lokasi pembibitan dengan jarak 60 cm dalam pola segitiga sama sisi. Supaya tidak bergerak, polibag diletakkan di dalam alur sedalam 5 cm atau ditimbun dengan tanah secukupnya.
·         Pembibitan dinaungi oleh pohon pelindung atau dibuat atap dari anyaman bambu Pembibitan disiram dua kali sehari kecuali jika hujan. Air siraman tidak boleh menggenangi permukaan media. 
·         Bibit  dipupuk setiap 14 hari sampai berumur 3 bulan dengan ZA (2 gram/bibit) atau urea (1 gram/bibit) atau NPK (2 gram/bibit). Pupuk diberikan pada jarak 5 cm melingkari batang kecuali untuk urea yang diberikan dalam bentuk larutan.
·         Semprotkan setiap 30 hari larutan secara lamat-lamat larutan Bio P 2000 Z (pupuk Bio P 2000 Z + Phosmit + air dengan perbandingan 1 : 1  : 200), di daun dan tanah sekitar batang.
·         Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida setiap 8 hari.  

5). Pemindahan Bibit.
Setelah berumur 3 bulan, bibit dalam polybag dipindahkan ke lapangan dan naungan dikurangi secara bertahap.  Bibit yang baik untuk ditanam di lapangan berumur 4-5 bulan, tinggi 50-60 cm, berdaun 20-45 helai dengan sedikitnya 4 helai daun tua, diameter batang 8 mm dan sehat. Dengan jarak tanam 3 x 3 m, kebutuhan bibit untuk satu hektar adalah 1250 batang termasuk untuk penyulaman.

3.2. Penyiapan Tempat/ Media Penanaman di Lahan.

1).    Penentuan Pola Tanaman 
Jarak Tanam:
·         Jarak tanam kakao digunakan adalah 3 x 3 meter sedangkan untuk lahan dengan kemiringan  lebih tajam maka jarak tanam lebih lebar
·         Arah penanaman adalah timur ke barat dan utara ke selatan. Dengan demikian bentuk pola bujur sangkar.
 
Pohon pelindung:
·         Tanaman kakao mutlak memerlukan pohon pelindung yang ditanam sebagai tanaman lorong diantara tanaman-tanaman kakao. Terdapat dua macam pohon pelindung yaitu:
a)   Pohon pelindung sementara. Pohon ini diperlukan untuk melindungi tanaman kakao muda (belum berproduksi) dari tiupan angin dan sinar matahari. Jenis pohon yang dapat ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca), turi (Sesbania sp.), Flemingia congesta atauClotaralia sp. Pohon ini ditanam  1 bulan sebelum ditanam kakao atau bersamaan waktunya dengan penanaman kakao. Untuk pohon pelindung dari pisang usahakan tanaman pisang jangan sampai anakan menjadi banyak, jumlah pohon yang ada hanya 3 batang.  Pohon pelindung sementara ini harus sudah di hilangkan setelah 4 atau 5 bulan.
b)   Pohon pelindung tetap. Pohon ini harus dipertahankan sepanjang hidup tanaman kakao dan berfungsi sebagai melindungi tanaman kakao yang sudah produktif dari kerusakan sinar matahari dan menghambat kecepatan angin. Jenis pohon yang cocok adalah Lamtoro (Leucena sp.), Sengon Jawa (Albizia stipula), Dadap (Erythrina sp.) dan Kelapa (Cocos nucifera). Pohon pelindung tetap ditanam dengan jarak tanam 6 x 3 m.  Jarak tanam yang diajurkan adalah 3 X 3 m2 dengan kerapatan pohon 1.100 batang pohon/hektar. Jarak ini sangat ideal karena nantinya pohon akan membentuk tajuk yang seimbang sehingga tanaman tidak akan mudah tumbang.
 
2).    Penyiapan media penanaman.
Setelah dipersiapkan letak lobang sesuai dengan desain  yang dinginkan maka langkah selanjutnya
a)  Pembuatan lobang tanam.
Lubang tanam dibuat 2-3 bulan sebelum tanam dengan ukuran:
·         40 x 40 x 40 cm untuk tanah bertekstur sedang.
·         60 x 60 x 60 cm atau 80 x 80 x 80 cm untuk tanah bertekstur berat
·         30 x 30 x 30 cm untuk tanah bertekstur ringan.
b) 14 hari sebelum tanam lubang diisi dengan campuran tanah dan pupuk organik granul /pellet ”bio Alami”  2 kg hingga 3 kg per lobang dan timbun bersama tanah hingga separuh lobang tertimbun.
a)    Berikan pupuk NPK  300 gram/lubang atau campuran urea 200 gram/lubang dan Sp-36 100 gram/lubang.
b)    Semprotkan larutan pupuk Bio P 2000 Z ( pupuk Bio P 2000 Z + Phosmit  + air dengan perbandingan 1 : 1  : 200 ). Penyemprotan hanya di lubang tanam, atau:
Campurkan  pupuk Bio P 2000 Z ke dalam pupuk organik granul/pellet ”Bio Alami” sebagai bahan campuran untuk penutup tanah.
c)    Tutup kembali lubang dengan tanah yang dicampur pupuk organik granul ”Bio Alami”  himgga permukaan tanah.
 
3). Cara Penanaman 
a)   Polybag yang berisi bibit tanaman disayat pada bagian sisi dan bawah, keluarkan bibit dan media dalam keadaan utuh.
b)   Lubangi  lubang tanam yang telah ditutup lagi tersebut selebar diameter polybag. Letakkan bibit dengan media sejajar dengan tanah.
c)  Masukkan kembali tanah galian dan padatkan tanah di sekeliling bibit.
      d)  Topang batang bibit dengan dua potong kayu/bambu.
e)  Untuk mencegah gangguan hewan, tanaman kakao harus diberi pagar pengaman dari bambu 
 
3.3. Pemeliharaan Tanaman
1).    Penyulaman 
Tanaman yang mati segera dilakukan penyulaman dengan tanaman baru yang sehat. Penyulaman dapat dilakukan sampai tanaman berumur 10 tahun.

2).    Penyiangan 
Pengendalian gulma dilakukan dengan membabat tanaman pengganggu sekitar 50 cm dari pangkal batang atau dengan herbisida sebanyak 1,5-2,0 liter/ha yang dicampur dengan 500-600 liter air. Penyiangan yang paling aman adalah dengan cara mencabut tanaman pengganggu.Tujuan penyiangan/pengendalian gulma adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara, untuk mencegah hama dan penyakit serta gulma yang merambat pada tanaman kakao/kakao.

3).    Pemangkasan 
Tujuan pemangkasan adalah untuk menjaga/pencegahan serangan hama atau penyakit, membentuk pohon, memelihara tanaman dan untuk memacu produksi.
a)   Pemangkasan bentuk
1.   Fase muda. Dilakukan pada saat tanaman berumur 8-12 bulan dengan membuang cabang yang lemah dan mempertahankan 3-4 cabang yang letaknya merata ke segala arah untuk membentuk jorquette (percabangan)
2.   Fase remaja. Dilakukan pada saat tanaman berumur 18-24 bulan dengan membuang cabang primer sejauh 30-60 cm dari jorquette
b)   Pemangkasan pemeliharaan.
Membuang tunas yang tidak diinginkan, cabang kering, cabang melintang dan ranting yang menyebabkan tanaman terlalu rimbun.
c)   Pemangkasan produksi.
Bertujuan untuk mendorong tanaman agar memiliki kemampuan berproduksi secara maksimal. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi kelebatan daun.  

4). Pemupukan.

Berikut disajikan jadwal dan dosis penggunaan pupuk Bio P 2000 Z dengan kombinasi pupuk organisk dibandingkan dengan penggunaan pupuk an organik saja.

Umur Tanaman
Dosis  Pupuk Kombinasi Bio P 2000 Z dan An Organik

Bio P2000Z
liter/ ha

Urea
gram/ pohon

SP36
gram/ pohon

KCl
Gram/ pohon

Kleserit/ Kies Gram/pohon
2 bulan
1 ½  liter / ha
20 gr/phn
20 gr/phn
10 gr/phn
10 gr/phn
6 bulan
1 ½  liter / ha
20 gr/phn
20 gr/phn
10 gr/phn
10 gr/phn
10 bulan
1 ½  liter / ha
30 gr/phn
30 gr/phn
15gr/phn
15 gr/phn
14 bulan
1 ½  liter / ha
30 gr/phn
30 gr/phn
15 gr/phn
15 gr/phn
 18 bulan
1 ½  liter / ha
50 gr/phn
60 gr/phn
30gr/phn
30 gr/phn
2 tahun
1 ½  liter / ha
50 gr/phn
60 gr/phn
30 gr/phn
30 gr/phn
2 ½ tahun
1 ½  liter / ha
60 gr/phn
80 gr/phn
40 gr/phn
40 gr/phn
3 tahun
1 ½  liter / ha
60 gr/phn
80 gr/phn
40 gr/phn
40 gr/phn
3 ½ tahun
1 ½  liter / ha
60 gr/phn
80 gr/phn
40 gr/phn
40 gr/phn
4 tahun
1 ½  liter / ha
80 gr/phn
100 gr/phn
50 gr/phn
50 gr/phn
4 ½ tahun
1 ½ liter / ha
80 gr/phn
100 gr/phn
50 gr/phn
50 gr/phn
5 tahun
1 ½ liter / ha
100 gr/phn
120 gr/phn
60 gr/phn
60 gr/phn
dst setiap  ½ tahun
1 ½ liter / ha
100 gr/phn
120 gr/phn
60 gr/phn
60 gr/phn

Dosis pemupukan tanaman di atas jika dibandingkan dengan dosis penggunaan pupuk an organik tanpa pupuk Bio P 2000 Z terdapat selisih penggunan cukup signifikan. Dosis anjuran tanpa pupuk Bio P 2000 Z adalah sebagai berikut:
·         Pada bulan ke 2 dosis anjuran Urea 50 gr/phn, SP 36 = 50 gr/ phn, KCl 25  gr/phn. Sehingga terjadi efieisensi urea 30 gr/ phn, SP 36 = 30 gr/ph dan KCl = 15 gr/ph.  Dengan jumlah tanaman 1100 pohon/ hektar maka terjadi perbedaan  maka terjadi efisiensi urea 33 kg urea, SP 36 = 33 kg/ha dan KCl 16 kg/ha.
·         Text Box: 7Pada tahun ke 2 dibandingkan dengan dosis anjuran bahwa Urea = 120 gr/ phn, SP 36 = 100 gr/phn dan KCl= 70 gr/phn serta kleserit =70 gr/phn. Maka terjadi efisiensi pupuk Urea  = 70 gr/phn, SP 36 = 40 gr/phn dan KCl = 30 gr/phn dan kliserit =  30 gr/phn. Dengan jumlah tanaman 1100pohon per hektar maka. Terjadilah  efisiensi sejumlah  Urea = 77 kg/ ha, SP 36 44 kg/ ha, KCl = 33 kg/ha dan kliserit 33 kg/ha.

Angka tersebut jika dirupiahkan maka nilainya di atas harga pupuk Bio P 2000 Z dimana pada tahun 2009  dan 2010  adalah Rp. 120.000,- per liter.
Pengurangan pupuk yang cukup dratis ini dikarenakan adanya mikrobia  yang ada di dalam  pupuk mempunyai sifat-sifat adalah:
(1)  Bersifat fiksasi  atau penambat unsur Nitrogen baik di udara dan di tanah. Diketahui bahwa Nitrogen di udara mempunyai komposisi 70 % dari kandungan seluruh unsur di udara. Sehingga pengurangan pupuk urea dapat mencapai 50 % dari dosis yang dianjurkan.
(2)  Kemampuan mikrobia yang menambat pupuk an organik yang diberikan. Sehingga pupuk tersebut tidak menguap atau tercuci, unsur hara yang ada diserap dilindungi dan disediakan pada saat tanaman menyerapnya. Efisiensi penggunaan pupuk urea dapat mencapai 50 % sedangkan untuk SP 36 dan KCl dan Kliserit hanya sekitar 30 % saja.
 
Disamping kemampuan dalam efisiensi pupuk, maka beberapa keuntungan dengan menggunakan pupuk Bio P 2000 Z secara garis besarnya adalah sebagai berkut:
(1)  Kemampuan memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah.
(2)  Kemampuan menetralkan sifat racun dan pH tanah
(3)  Kemampuan merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman. Dan kemampuan merangsang pertumbuhan generatif, sehingga buah lebat dan bagus.
(4)  Ketahanan internal lebih baik dari serangan hama dan penyakit.

Cara Pemupukan  Menggunakan pupuk hayati Bio P 2000 Z  dan pupuk organik cair Phosmit.
Bio P 2000 Z adalah pupuk hayati dan pupuk organik cair Phosmit. Cara penggunaannya dapat dilakukan dengan 2 cara.
Menggunakan Phosmit.
Phosmit yang mengandung berbagai hormon tanaman, unsur-unsur mikro, dan pupuk organik cair lengkap yang berfungsi sebagai pasangan dari pupuk Bio P2000 Z.
Dilakukan pencampuran antara pupuk Bio P 2000 Z + Phosmit + air dengan perbandingan  1  : 1 : 200.
Untuk 1 ha lahan digunakan digunakan Bio P 2000 Z 1 ½ liter + Phosmit1 ½ liter dan air 300 liter untuk satu kali aplikasi.
 
 5).    Penyiraman 
Penyiraman tanaman kakao yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan berpohon pelindung, tidak perlu banyak memerlukan air. Air yang berlebihan menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman pohon kakao dilakukan pada tanaman muda terutama tanaman yang tak diberi pohon pelindung.

6).    Penyemprotan Pestisida 
Walaupun terdapat ketahanan internal dari pupuk Bio P 2000 Z, pada kondisi tertentu tanaman juga terkena hama dan penyakit. Hal ini sama dengan kondisi manusia walaupun telah diupayakan sehat, namun tetap tidak luput terkena penyakit.
Penyemprotan pestisida  dilakukan dengan dua tahapan, pertama bersifat untuk pencegahan sebelum diketahui ada hama yang benar-benar menyerang. Kadar dan jenis pestisida  disesuaikan. Penyemprotan tahapan kedua adalah usaha  pemberantasan hama, selain jenis juga kadarnya ditingkatkan. Misal untuk pemberantasan digunakan insektisida berbahan aktif seperti Dekametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Sipermetrin (Cymbush 5 EC), Metomil Nudrin 24 WSC/Lannate 20 L) dan Fenitron  (Karbation 50 EC).

3.7.    Penyerbukan Buatan 
Dari bunga yang muncul hanya 5% yang akan menjadi buah, peningkatan persentase pembuahan dapat dilakukan dengan  penyerbukan buatan. Bagian bunga yang mekar digosok denga  bunga jantan yang telah dipetik sebelumnya, kemudian bunga ditutup dengan sungkup.

3.8.    Rehabilitasi Tanaman Dewasa 
Tanaman dewasa yang produktivitasnya mulai menurun tidak diremajakan (ditebang untuk diganti tanaman baru), tetapi direhabilitasi dengan cara okulasi tanaman dewasa dan sambung samping tanaman dewasa. Cara yang kedua lebih unggul karena peremajaan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, murah dan lebih cepat berproduksi. Entres (bahan sambungan) diambil dari kebun entres atau produksi yang telah diseleksi, berupa cabang berwarna hijau, hijau kekakaoan atau kakao, diameter 0,75-1,50 cm dan panjang 40-50 cm. Sambungan dapat dibuka setelah 3-4 minggu.

3.4.  Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit ditangani sesuai dengan serangan yang ada. Sistem pengendalian hama terpadu diterapkan untuk menlindungi seluruh ekosistem yang ada.
3.5.      Panen
Ciri dan Umur Panen 
Buah kakao/kakao bisa dipenen apabila perubahan warna  kulit dan setelah fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang ± usia 5 bulan. Ciri-ciri buah akan dipanen adalah warna kuning pada alur buah; warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah; warna kuning pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kakao masak pohon dicirikan dengan perubahan warna buah:a)   Warna buah sebelum masak hijau, setelah masak alur buah menjadi kuning. b)   Warna buah sebelum masak merah tua, warna buah setelah masak merah muda, jingga, kuning. Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran rendah) atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah penyerbukan. Pemetikan buah dilakukan pada buah yang tepat masak. Kadar gula buah kurang masak rendah sehingga hasil fermentasi kurang baik, sebaliknya pada buah yang terlalu masak, biji seringkali telah berkecambah, pulp mengering dan aroma berkurang.

2).    Cara Panen  
Untuk memanen kakao digunakan pisau tajam. Bila letak buah tinggi, pisau disambung dengan bambu. Cara pemetikannya, jangan sampai melukai batang yang ditumbuhi buah. Pemetikan kakao hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat dibatang/cabang yang ditumbuhi buah..

3).    Periode Panen 
Panen dilakukan 7-14 hari sekali. Selama panen jangan melukai batang/cabang yang ditumbuhi buah karena bunga tidak dapat tumbuh labi di tempat tersebut pada periode berbunga selanjutnya.

4).    Prakiraan Produksi 
Tanaman kakao mencapai produksi maksimal pada umur 5-13 tahun. Produksi per hektar dalam satu tahun adalah 1.000 kg biji kakao kering.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar